Getting Time...

Guru Tak Boleh Berteman dengan Murid di Facebook

Hanna Meinita
Rabu, 27 April 2011 09:23 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
INGGRIS - Para guru diperingatkan agar tidak berteman dengan para “murid” di situs jejaring sosial Facebook. Pasalnya, saat ini terjadi pengaburan batas antara kehidupan profesional dan pribadi para guru.

Konsultan keamanan internet Karl Hopwood dalam sebuah Konferensi Nasional Tahunan Guru (NUT) di Inggris menyebutkan, siswa yang mendapatkan akses informasi akan gurunya berpotensi mempermalukan para guru di laman Facebook mereka. Selain itu, banyak kepala sekolah yang menggunakan informasi yang diposting di situs jejaring sosial untuk merekrut calon pekerjanya. Demikian seperti dikutip dari situs Guardian, Rabu (27/4/2011).

Hopwood yang juga mantan kepala sekolah ini menyatakan, komentar lengah yang di-posting dapat berdampak buruk. Dia memberikan contoh seorang wakil kepala sekolah, yang menemukan foto dirinya mengenakan baju Superman dan dipajang di papan buletin sekolah. Gambar ini diambil oleh rekannya di suatu pesta ulang tahun, dan menyebar karena pertemanannya dengan para murid.

Sebelumnya, NUT sudah memperingatkan para guru agar tidak berteman dengan muridnya di situs jejaring sosial. Mereka juga harus memberi tahu pihak sekolah akan tetap berteman dengan orangtua murid atau mantan murid.

Bahkan, guru sekolah di Kent disarankan oleh dewan untuk menutup profil jaringan sosial. Ini dilakukan setelah seorang kepala sekolah di Dartford mem-posting foto diri dengan keterangan ukuran payudara.

Dalam satu kasus, seorang guru perempuan disarankan seorang kepala sekolah agar mengecek dirinya di sebuah situs jejaring sosial, karena ada foto dirinya dengan gelas bir di kepala. Saran diberikan saat sang guru mencari pekerjaan.

Setelah dia menghapus fotonya, dia segera mendapat pekerjaan. Selain itu, pakar keamanan internet mengaku telah diminta menyerahkan hasil pencarian setiap calon orang yang diwawancara di Google.

Kenyataannya, semakin banyak anak memiliki akun di situs jejaring sosial. Menurut survei yang dihelat Ofcom, tahun lalu, lebih dari sepertiga anak usia delapan hingga 12 tahun di Inggris memiliki profil di Facebook, Bebo, atau MySpace. Angka tersebut meningkat 25 persen dibandingkan pada 2009.

Namun, Hopwood tetap memuji situs jejaring sosial sebagai ruang untuk berbagi informasi positif, memberikan contoh halaman peringatan untuk seorang guru di Facebook. “Beberapa hal di sana sangat baik,” kata Hopwood.(rfa)
  • muflih khofi » 0 Tanggapan
    tinggal personnya saja.mau dibuat positif ato negatif
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Andy D'Bravo » 0 Tanggapan
    ...it depeneds of usage,,,be while it's good,why not..?? 'inna amalu binniat...' Insya Allah..
    Beri Tanggapan Laporkan
  • sutiono » 0 Tanggapan
    Perlu aturan yang konkret dalam konteks pembatasan komunikasi antar guru dan psert didik dalam jejaring sosial. Guru dan psrt didik sbg mitra bljar mungkin aplikasi sumber2 bljr yang perlu ditonjolkan dlm pemnfaatan FB.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • black new » 0 Tanggapan
    Menurut saya, sebaiknya untuk para guru ataupun akademisi yg lainnya harus tetap menjaga batas kewibawaan terkait dengan posting yg dilakukan. Misal ketika akan meng-update status maka tidak jelas mengarah ke mana maksud dari update status itu dan jelas sekali bahwa tidak hanya teman sebaya sang guru tapi juga akan dilihat oleh para siswanya. Dan juga tentunya jangan mengupdate seperti kesan mengeluh, karena secara tidak langsung pesan itu akan diterima oleh murid dan tentunya secara tidak langsung juga akan mempengaruhi pandangan siswa terhadap gurunya. Untuk itu, saran saya updatelah hal-hal yang bersifat serta secara persuasif untuk melakukan hal-hal yang positif.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Ammas M., S.Pd. » 0 Tanggapan
    ambil baiknya aja... jangan bawa ke sisi negatifnya.. tapi memang perlu ada pembatasan antara siswa dengan guru.. di fb. etika perlu diperhatikan.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit