Getting Time...

Waduh, Profesor Ajarkan Pakai Sex Toy!

Rifa Nadia Nurfuadah
Minggu, 06 Maret 2011 09:02 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
NEW YORK - Seorang profesor psikologi di Northwestern University membuat geger kampusnya karena memperagakan aktivitas seksual dengan alat bantu sebagai bagian dari kuliah tambahannya.

Profesor tersebut, J Michael Bailey, mengampu mata kuliah Seksualitas Manusia yang diminati sekira 600 mahasiswa. Baru-baru ini, usai kuliah tentang rangsangan seksual, Bailey menghadirkan seorang pria yang dia undang untuk berpartisipasi dalam diskusi tentang 'orang-orang aneh (kinky)'.

Bailey kemudian menuliskan penjelasan tentang kuliahnya yang dalam surat elektronik yang dia tujukan kepada para mahasiswanya. Surat elektronik tersebut lalu dicetak ulang oleh surat kabar setempat The Daily Northwestern, dan dilansir situs The New York Times, Minggu (6/3/2011).

Dia menulis, sang pria, Ken Melvoin-Berg adalah rekanan pemilik sebuah bisnis bernama Weird Chicago Tours. Ketika itu, Melvoin-Berg bertanya pada Bailey, apakah akan tidak apa-apa jika salah satu wanita yang ikut bersamanya mendemonstrasikan ejakulasi pada wanita dengan menggunakan alat bantu yang mereka bawa.

Setelah Bailey telah memberi 'peringatan eksplisit' kepada para mahasiswanya tentang apa yang akan mereka lihat, sekira 100 mahasiswa menyaksikan penetrasi alat tersebut ke kelamin si wanita.

Pria yang telah dua dekade mengajar di Northwestern itu menulis dalam surat elektroniknya, bahwa presentasi tersebut merupakan bagian dari kelas informal yang dia sajikan. Kuliah tambahan tersebut, kata Bailey, tidak akan diujikan dan tidak bersifat wajib. Sebelumnya, Bailey pernah mengundang kalangan transeksual, dua narapidana pelaku pelecehan seksual, dan pasangan swinger, yakni orang yang terbuka dengan pertukaran partner seksual.

Rektor Northwestern University Morton Schapiro mengaku kecewa atas tindakan Bailey. Dalam pernyataan resminya, Schapiro mengatakan, meski aksi tersebut dilakukan usai jam kuliah dan para mahasiswa tidak diwajibkan mengikutinya, serta telah diperingatkan berulang kali tentang apa yang akan mereka saksikan, dia merasa kelas tambahan Bailey sebagai sesuatu yang merendahkan almamaternya.

"Pihak kampus akan menyelidiki insiden ini secara spesifik. Dan juga, mengklarifikasikan apa saja yang menjadi sistem pengajaran yang tepat, baik dalam hal ini maupun hal lain di masa datang," ujar Schapiro.

Dalam surat elektronik kepada para mahasiswanya, Bailey mengaku tidak menyesal. "Sebagian besar mahasiswa memberi reaksi positif atas presentasi ini," kata Bailey. (rfa)(rhs)
TWITTER »
twit