Ilmu Komunikasi Fisip UMM Gelar Workshop TV

Jum'at, 26 November 2010 20:29 wib | Bagus Santosa - Okezone

Ilmu Komunikasi Fisip UMM Gelar Workshop TV Ilustrasi (ist) MALANG - Hampir semua informasi dapat kita peroleh melalui tayangan televisi. Mulai dari hiburan, berita, dan pengetahuan umum yang dikemas dalam bentuk yang beragam. Namun dalam perkembangannya tidak jarang tayangan televisi tidak lagi mengutamakan muatan programnya. Para kreator pertelevisian juga seperti kehilangan motivasi untuk menghasilkan program-program berkualitas bagi masyarakat.

Melihat realita tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban ”Muhammadiyah untuk Bangsa”, jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Nasional Produksi Televisi bertajuk ”Think Outside The Box, Stay In Reality”.
 
Acara yang digelar di Aula BAU UMM ini dihelat selama tiga hari penuh, 26-28 November 2010. Hadir dalam acara tersebut sutradara dan pakar televisi terkemuka nasional A Nawir Hamzah dan dihadiri sekira 150 peserta yang berasal dari sejumlah kota di Indonesia seperti Makassar, Tulungagung, Magetan, Jember, Madiun, Surabaya, dan sekitar Malang Raya. Pengikut workshop ini tak hanya dari kalangan mahasiswa, namun juga ada kalangan guru, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan broadcasting dan juga siswa-siswa SMA yang memiliki minat tinggi terhadap seni broadcasting.

Selama tiga hari pelaksanakan workshop, peserta akan mendapatkan sejumlah ilmu penting dalam dunia pertelevisian. Misalnya saja materi kreatif produksi-penulisan, penyutradaraan, bagaimana menggunakan kamera, men-setting lighting, sound dan juga materi mengenai editor off line dan tapping.

Himawan Sutanto, ketua panitia workshop dan juga dosen Ilmu Komunikasi UMM mengatakan, workshop ini merupakan kegiatan rutin tahunan jurusan. ”Ini merupakan agenda rutin setiap tahun. Pada dasarnya motivasi kami untuk menggelar workshop ini adalah keprihatinan terhadap dunia pertelevisian yang sudah cukup jauh meninggalkan fungsinya yang tak hanya berfungsi sebagai entertainment namun yang lebih penting adalah fungsi edukasinya,” jelas Himawan sebagaimana dikatakan kepada okezone, Jumat (26/11/2010).
 
A Nawir Hamzah mengatakan, saat ini dunia pertelevisian memang sudah jarang yang bersikap idealis memenuhi fungsi edukasi bagi masyarakat. ”Asal karyanya laku, rating oke dan disukai penonton, selesai perkara. Banyak hal yang menjadikan perjalanan pertelevisian kita ini salah jalan. Inilah yang harus kita perbaiki,” ungkapnya.

Dia memberi contoh banyaknya tayangan televisi yang ngawur dalam pembuatannya. Tayangan televisi ”Suami-Suami Takut Istri” misalnya. Ia merasa miris tayangan yang menggambarkan dengan jelas bagaimana perspektif perempuan muslimah dengan representasi jilbab digambarkan berani dengan suaminya, melakukan tindakan kekerasan, membentak, menjewer telinga suami dan sebagainya. Belum lagi tayangan ini ditayangkan di jam-jam di mana anak-anak bisa bebas menonton.
    
Nawir berharap dengan adanya workshop ini para peserta yang merupakan calon-calon broadcaster tergugah hatinya agar mampu menjadi broadcaster yang memiliki mental broadcaster pendidik, bukan perusak moral. (mbs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia

Tahun ini Republik Indonesia memasuki usia 69 tahun. Bagaimanakah anak muda memaknai dan mengisi kemerdekaan Tanah Air? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 15-22 Agustus 2014 dengan tema "Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »