Getting Time...

Batik Supranatural Keraton Surakarta Diteliti

Cuk Sahana
Jum'at, 15 Oktober 2010 11:08 wib
Salah satu sudut Keraton Surakarta (Istimewa)
Salah satu sudut Keraton Surakarta (Istimewa)
YOGYAKARTA - Menjelang akhir abad XVIII, tepatnya pada 5 Jumadil Awal 1716 Saka (1790), Pakubuwana IV (1788-1820) menetapkan motif hias Alas-alasan Pinarada Mas sebagai motif larangan. Sebuah motif yang dianggap sakral, setara kesakralannya dengan pusaka lain.

Sakralitas motif hias alas-alasan berakar pada konsepsi supranatural dan mistis tentang alas dan gunung. Alas dan gunung merupakan situs sentral dan fundamental, yang melalui kepercayaan dan pandangan hidup orang Jawa dimapankan. Bersama dengan Laut Selatan, alas (Krendhawahana) dan gunung (Merapi dan Lawu) menjadi pilar kosmik Keraton Surakarta.

"Pandangan supranatural terhadap alas dan gunung inilah yang menjadi energi penggerak dan pengukuh eksistensi kreasi simbolik dan estetik batik Keraton Surakarta," ujar dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Drs. Guntur, M. Hum, dalam ujian terbuka Program Doktor Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis 14 Oktober kemarin.

Guntur melanjutkan, motif ini terhindar dari perubahan sepanjang masa sebab terlindung dalam pagar otoritas raja. Motif Alas-alasan hanya dapat dipakai oleh raja, pengantin, dan penari Bedhaya Ketawang di lingkungan Keraton Surakarta. Sebuah monopoli yang terlarang bagi rakyat biasa, kecuali raja dan keluarganya.

Peruntukkan khusus tersebut menjadikannya sebagai salah satu benda pusaka di antara benda upacara atau regalia lainnya, sebuah motif yang secara historis dan kultural selalu digunakan sebagai busana tari Bedhaya Ketawang dalam ritual penobatan raja (jumenengan) dan ulang tahun penobatan raja di lingkungan Keraton Surakarta. "Itulah sebabnya tari tersebut dikategorikan sebagai tari upacara. Tari yang diyakini diciptakan oleh mahluk halus. Kanjeng Ratu Kidul selalu hadir serta terlibat dalam melatih seraya menarikannya. Tidak hanya menjadi dasar kesakralan tari Bedhaya Ketawang, namun juga motif hias yang melekat pada busana tari tersebut," katanya.

Suami Atik Kusmiati ini menuturkan, tari Bedhaya Ketawang mengandung nilai-nilai religi, sehingga ia diklasifikasikan sebagai tari Religi. Tari yang diyakini sebagai ekspresi cinta mendalam penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul atau Kanjeng Ratu Kencana Sari, kepada Sultan Agung sehingga termasuk dalam tari percintaan.

Orasi ilmiah Guntur berjudul Motif Hias Alas-alasan Pada Batik dalam Ritual Tingalan Jumenengan dan Perkawinan di Keraton Surakarta: Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna. Dia mengungkapkan, motif hias Alas-alasan juga merupakan reprsentasi perlindungan. Dalam konteks perkawinan, motif ini merepresentasikan dari "raja", gumelaring jagad, harapan, perlindungan dan kesuburan.

Tidak hanya itu, motif ini merupakan ekspresi estetis dan simbolik. Keduanya dilandasi oleh konsepsi penting alas dan atau gunung, yakni sebuah keyakinan mistis, kesadaran historis dalam upaya meraih harmoni antara manusia, lingkungan, dan Tuhan.  "Basis kreasi estetik yang esensial dan fundamental itulah yang terajut pada motif tersebut sehingga menjadikannya sarat pesan dan makna dalam kehidupan yang lebih baik," pungkas ayah Mandira Citra Perkasa dan Sekar Ayu Asmara, yang dinyatakan lulus Program Doktor Seni Pertujukan UGM tersebut.(rhs)
  • Increnk » 0 Tanggapan
    saya tertarik dengan batik dan wisata spiritual. boleh saya minta lokasi detail dari batik keraton ini ??? saya sedang mencari lokasi pkl dan ta untuk desember 2011. di tunggu balasannya terimakasih
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit