Image: corbis.com
JAKARTA - Dunia pemasaran kini makin apik menerapkan Integrated Marketing Communication (UMC), strategi yang menggabungkan dunia periklanan dengan public relations (PR). Oleh karena itu, diperlukan pendidikan berkualitas untuk menciptakan tenaga-tenaga handal di kedua bidang tersebut.
Domain PR berhubungan dengan usaha mengangkat citra dan aneka kegiatan korporasi. Sementara, kegiatan promosi produk ditangani bagian periklanan. Meski demikian, kedua bidang ini saling mendukung dalam mencapai target pemasaran.
Salah satu sekolah tinggi periklanan di Jakarta adalah Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (ITKP). ITKP didirikan oleh para praktisi periklanan dan sebagian besar berprofesi sebagai konsultan periklanan. Untuk menjadi dosen di ITKP, para praktisi periklanan tersebut harus berpengalaman di bidang periklanan minimal 15 tahun.
Sekolah yang terletak di Jalan Pela Raya nomor 40, Jakarta Selatan ini mengadopsi kurikulum International Advertising Association yang telah disesuaikan dengan kondisi biro periklanan di Indonesia. Setiap tahun, ITKP hanya menerima 80 mahasiswa, sementara peminatnya lebih dari seratus orang. ITKP sengaja merancang kelas-kelas kecil agar suasana belajar lebih kondusif. Sekira 80 persen lulusan ITKP diserap industri periklanan seperti di biro iklan, media, maupun sebagai freelance.
Sementara, tenaga PR makin dibutuhkan karena perusahaan makin sadar akan pentingnya fungsi PR sebagai mata dan telinga mereka. Kemampuan PR yang baik tidak serta merta didapatkan, melainkan butuh pendidikan dan pelatihan yang konsisten. Satu contoh sekolah tinggi yang khusus menawarkan program PR adalah Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London School of Public RElations (STIKOM LSPR). Kurikulum yang diajarkan di LSPR mengacu pada London Chamber of Commerce Industry Examination Board, Inggris. Selain itu, LSPR juga menjalin kerja sama dengan Universitas Cambridge, dan universitas ternama di Malaysia dan Singapura.
LSPR didukung oleh staf pengajar berstandar internasional dan melibatkan pengajar asing dalam bidang komunikasi seperti dari Inggris, Australia, dan Kanada. Dengan hadirnya pengajar asing tersebut, LSPR menerapkan sistem pembelajaran bilingual. Hal ini dilakukan juga untuk mempersiapkan lulusan LSPR agar mampu berbahasa Inggris dengan baik.
Untuk mempersiapkan lulusan LSPR ke dunia kerja, para mahasiswa LSPR diwajibkan mengikuti program magang. Program ini dikelola oleh divisi Career Center yang bertugas mempertemukan perusahaan dengan mahasiswa yang akan magang. Sebagian besar dari perusahaan rekanan LSPR juga membuka lowongan sebagai tenaga paruh waktu. (dari berbagai sumber)(rhs)