Getting Time...

Bank Dunia Akui Kurikulum Fakultas Farmasi Unair

Rifa Nadia Nurfuadah
Senin, 07 Juni 2010 17:18 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
JAKARTA - Dalam mapping Bank Dunia tentang pendidikan kesehatan di Indonesia terlihat, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) menerapkan model pendidikan sesuai standar internasional. Model ini sesuai dengan kerangka yang akan diajukan oleh Bank Dunia kepada pendidikan farmasi di Indonesia.

Mapping pendidikan kesehatan Indonesia ini merupakan langkah awal untuk desain proyek peningkatan pendidikan kesehatan yang akan dilakukan oleh Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia. Seperti dikutip dari situs Unair di Jakarta, Senin (7/6/2010), Bank
Dunia diwakili oleh Senior Health Specialist Puti Marzoeki dan didampingi oleh beberapa ahli dari bidang kesehatan, seperti dari Monash University dan dari industri farmasi Indonesia melakukan background study untuk mengetahui permasalahan
pendidikan kesehatan di Indonesia serta benchmarking antara universitas di Indonesia dengan di luar negeri. Para ahli ini dilibatkan untuk memberi masukan tentang sistem yang seharusnya digunakan.

Puti mengaku, terkesan dengan model pendidikan yang diterapkan Unair, "Model pendidikan kesehatan di Unair mendekati program yang dipakai di luar negeri dan sesuai standar internasional, sehingga mudah dijual," jelasnya.    

Model pendidikan yang dipakai oleh Fakultas Farmasi Unair memang mengacu pada pendidikan farmasi global. Dijelaskan Dekan Fakultas Farmasi Unair Prof Dr Ahmad Syahrani, model tersebut berfokus pendidikan farmasi bukan sekadar tentang produk atau obat, tapi juga pasien, karena kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. "Farmasis adalah orang yang membuat obat, karena itu harus mengawasi obat tersebut dari pra produksi, pasca produksi, hingga sampai dikonsumsi dan dikeluarkan oleh pasien sebagai sekresi," tutur Ahmad.

Ahmad menambahkan, Fakultas Farmasi Unair berusaha sebagai trendsetter bagi pengembangan pendidikan tinggi farmasi di Indonesia dengan mengembangkan karakteristik farmasi yang holistik sebagai ciri khas. Fakultas Farmasi Unair tercatat
memiliki jumlah mahasiswa dan tenaga pengajar terbesar di Indonesia. Kepercayaan diri Fakultas Farmasi Unair makin mantap dengan adanya pengakuan dari Bank Dunia tersebut.

Fakultas Farmasi Unair kini sedang berusaha memasukkan model pendidikan mereka ke dalam Kerangka Kualitas Nasional Indonesia (KKNI). Untuk itu, Fakultas Farmasi Unair sudah mulai membina beberapa fakultas dan jurusan farmasi dari beberapa universitas di Indonesia untuk mengikuti model yang Unair terapkan, seperti Universitas Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Surakarta, Unviersitas Udayana, dan Universitas Lambung Mangkurat.

Kunjungan ini juga berkaitan dengan rencana pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas bidang kesehatan di Indonesia dengan mengajukan pinjaman sebesar USD77 juta atau sekira Rp715 miliar (Rp9.295 per USD) untuk program
tersebut.

Untuk memulainya, Bank Dunia melakukan pemetaan kualitas pendidikan kesehatan di Indonesia, baik di bidang kedokteran, keperawatan, farmasi, hingga kesehatan masyarakat. Bank Dunia juga ingin membandingkan kesenjangan kemampuan yang
terjadi di antara universitas-universitas di Indonesia. Selain Unair, Bank Dunia juga bertandang ke Fakultas Farmasi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan Universitas Gadjah Mada. Tak hanya itu, Bank Dunia pun mengunjungi industri
kesehatan farmasi serta rumah sakit-rumah sakit.
(rhs)
TWITTER »
twit