Getting Time...

Jadi Pemimipin yang Baik

Rifa Nadia Nurfuadah
Sabtu, 05 Juni 2010 12:06 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
SETIAP orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Seseorang juga dapat menjadi pemimpin dalam lingkup yang lebih luas seperti organisasi atau masyarakat. Salah satunya adalah menjadi pemimpin di suatu perusahaan untuk membuat perubahan.

Ichsan S Putra dan Ariyanti Pratiwi dalam buku Sukses dengan Soft Skills memberikan tips agar dapat memimpin secara efektif.

Menurut Ichsan dan Ariyanti ada dua tipe pemimpin, yaitu pemimpin struktural dan pemimpin relasional. Pemimpin struktural ditentukan oleh jabatannya, misalnya manajer. Orang yang menjadi pemimpin struktural belum tentu memiliki kualitas kepemimpinan yang baik. Sementara, pemimpin relasional adalah orang yang aktif terlibat dalam timnya, memiliki ide-ide inovatif dan inisiatif membuat perubahan positif. Mereka yang menjadi pemimpin relasional umumnya akan lebih cepat naik jabatan dan pada akhirnya menjadi pemimpin struktural.

Dalam buku setebal 258 halaman ini, terdapat lima komponen pembentuk pemimpin relasional. Pertama, inklusif artinya memahami, menghargai, dan berusaha mengoptimalkan perbedaan yang ada. Kedua, memberdayakan; pemimpin relasional tidak berusaha menghalang-halangi kemajuan orang lain bahkan memberdayakan. Ketiga, bertujuan; yaitu memiliki komitmen untuk mencapai suatu tujuan, baik dalam tujuan pribadi maupun tujuan bersama. Keempat, etis; pemimpin relasional bertindak sesuai nilai dan standar moral. Dia juga memberikan panutan dan contoh yang baik kepada pengikutnya. Kelima, berorientasi proses; pemimpin relasional percaya bahwa proses tak kalah pentingnya dengan hasil akhir dan menghargai usaha yang dilakukan semua orang.

Untuk mencapai kepemimpinan efektif dibutuhkan rasa percaya dan komunikasi yang baik. Rasa percaya merupakan indikator bahwa pengikut merasa puas dengan kepemimpinan pada organisasi tersebut. Seorang pemimpin harus bisa mempercayai orang lain tanpa kehilangan kewaspadaan. Sedangkan komunikasi adalah hal yang mutlak dikuasai seorang pemimpin agar dapat menyampaikan visi dan misinya dengan baik.

Seorang pemimpin harus mengenali pengikutnya, tidak hanya sebatas nama tetapi juga karakteristik mereka. Dia berperan sebagai sebagai inspirator dan visioner tentang akan menuju ke mana organisasinya. Dia harus cakap secara teknis untuk mencapai tujuan, di sini pengalaman kerja juga menentukan kecakapan teknis seperti mengambil inovasi dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Seorang pemimpin juga harus mampu mengambil keputusan dengan tepat. Perlu diketahui, ada tiga model pengambilan keputusan yaitu direktif, partisipatif, dan konsultatif. Pada model direktif, pemimpin mengambil keputusan dengan sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali menerima masukan dari orang lain.

Pengambilan keputusan secara partisipatif memungkinkan semua pengikut memberi masukan dalam diskusi dan proses pengambilan keputusan. Model komunikatif adalah kombinasi dua model sebelumnya. Pada model ini pemimpin hanya meminta masukan mengenai hal-hal yang perlu didiskusikan, sementara keputusan-keputusan strategis dilakukan oleh si pemimpin.

Pemimpin yang baik perlu memiliki kemampuan menguasai emosi. Bukan sekadar menghindari kemarahan yang tidak beralasan, tetapi juga kemampuan menyembunyikan kepanikan dan tetap bersikap tenang di tengah masalah. Sejalan dengan penguasaan emosi, pemimpin yang baik pun harus tahan menghadapi tekanan. Ketidaktahanan terhadap tekanan akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan fatal.

Poin penting lainnya, para pemimpin harus mampu bertanggung jawab atas semua keputusan yang telah diambil, terutama jika berakibat buruk pada organisasinya.





   (rhs)
TWITTER »
twit