Getting Time...

Pemuda "Mandul" Pewaris Peradaban

Selasa, 25 Mei 2010 09:39 wib
Image : Corbis.com
Image : Corbis.com
Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”. (Pramoedya Ananta Toer)

Itulah sebuah kalimat tegas yang pernah diungkapkan seorang Pramoedya Ananta Toer. Secara ideal realita, pemuda harus terus turut berperan aktif dalam derap langkah pembangunan. Sejarah berbicara bahwa di tangan generasi mudalah motor pergerakan berjalan. Tengok saja ketika di tahun 60-an, generasi muda kala itu tidak tinggal diam melihat bangsanya mengalami depresi mental akibat teror yang ditebarkan oleh kaum ekstremis PKI. Demonstrasi yang dilakukan oleh pemuda secara besar-besaran kala itu, mendorong lahirnya Tritura dan beralihnya kekuasaan Orde Lama menuju Orde Baru.

Tahun 70-an, kembali pemuda menunjukkan giginya, kali ini sasarannya pada cengkeraman modal asing.Dalam peristiwa Malari pemuda yang terdiri dari ribuan mahasiswa dan pelajar berkumpul di kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat. Setelah itu mereka beranjak berdemonstrasi ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma untuk menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang saat itu,Tanaka Kakuie.

Aksi tersebut sekali lagi, mencerminkan kepedulian pemuda terhadap negerinya. Terakhir, yang paling fenomenal, pemuda dan gabungan elemen masyarakat berhasil menumbangkan sebuah rezim yang selama 32 tahun telah berkuasa. Sekarang, bagaimanakah keadaan pemuda Indonesia? Miris rasanya ketika melihat para generasi muda saat ini justru terkungkung dalam ketidakpastian terhadap masa depannya.

Lihat saja kasus bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa pemuda ketika mereka dinyatakan tidak lulus UAN,bahkan ada kasus bunuh diri yang terjadi jauh sebelum pengumuman UAN, hanya karena kekhawatiran tidak lulus UAN. Itukah cerminan keadaan mental pemuda sekarang? Siapa yang patut disalahkan dengan terbentuknya mental seperti ini? Terlebih ketika mereka yang mengaku pemuda justru hanya bisa duduk diam berpangku tangan.

Bahkan yang lebih buruk lagi mereka justru memberikan sumbangan permasalahan dalam bangsa ini.Tawuran antarsiswa mulai dari tingkat seragam putih biru, sampai pada siswa yang sudah menyandang gelar Maha. Memakai narkotika dan obat-obat terlarang. Generasi seperti inikah yang diharapkan akan membangkitkan peradaban? Selain itu,egoisme saat ini kian semakin tumbuh meninggi di kalangan mahasiswa.

Hal tersebut diakibatkan oleh biaya kuliah yang semakin mahal, yang kemudian menyebabkan semakin menipisnya kepedulian mahasiswa terhadap kehidupan sosial di sekitarnya.Egoisme inilah yang kemudian menimbulkan berbagai kemandulan dari pemuda.Ya,pemuda telah mandul memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat yang mengharapkannya. Pemuda kini telah mandul untuk dapat melahirkan sebuah episode-episode baru dalam perbaikan bangsa ini.

Coba hitung saja, berapa banyak mahasiswa yang masih melakukan kerja-kerja sosial? Berapa banyak mahasiswa yang masih terlibat dalam pembangunan komunitas pada masyarakat yang terpinggirkan? Maka hendaknya momen kebangkitan nasional saat ini, dapat menjadi momen yang sangat pas untuk pemuda agar mereka menginsyafi peran mereka sesungguhnya untuk Negara.Karena jika tidak, apa jadinya Indonesia di masa mendatang ketika pemudanya hanya memikirkan dirinya sendiri.

Apa jadinya Indonesia di masa mendatang ketika pemudanya “mandul” dalam melahirkan karya.Berharap saat ini kita mulai memperbaiki diri,agar kelak kita tidak menjadi pemuda-pemuda yang hanya bisa “berternak diri” seperti yang diungkapkan oleh Pram dalam ungkapannya di atas. (*)

Puti Ayu Setiani
Mahasiswi Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia
  

(//rhs)
TWITTER »
twit