www.okezone.com
news

Suara Kampus


Pasar dalam Potret Para Mahasiswa

Selasa, 24 November 2009 - 11:10 wib
text TEXT SIZE :  

SURABAYA - Pasar tradisional di Surabaya tetap eksis dan menyuguhkan dinamikanya sendiri. Itulah yang ditampilkan 53 mahasiswa Departemen Komunikasi FISIP Unair, dalam pameran fotografi berjudul Hiruk Pikuk Pasar Surabaya, yang digelar di lobi promo Royal Plaza, sejak kemarin.

Pameran ini menampilkan 70 karya foto, hasil jepretan mereka dalam tiga bulan terakhir. Foto-foto itu menceritakan pasar Surabaya sekarang. Sebuah realita di tengah maraknya pasar ritel modern yang menjamur di Kota Pahlawan. Menurut Ketua Pameran, De Laguna La Tanri Putera, foto yang dipamerkan itu sebenarnya untuk memenuhi kuliah fotografi berbobot dua sistem kredit semester (SKS) yang harus dilalui setiap mahasiswa jurusan ini. Kali ini disediakan tema yang cukup menantang, yaitu pasar tradisional atau pasar basah, yang menurut mereka kian terhimpit.

"Kami ingin mengasah kemampuan fotografi sekaligus menyodorkan potret masa kini dinamika pasar tradisional di Surabaya," ungkap De La di sela pembukaan, kemarin.

Foto-foto yang ditampilkan, lanjut De La, adalah sortiran dari ratusan karyanya dan rekan-rekan saat blusukan di pasar-pasar Surabaya dan sekitarnya. Mulai dari pasar di Darmo Satelit, Wonokromo, Pabean Cantikan, Banyu Urip, Irian Barat, Keputran hingga pasar Waru. Menurut De La, secara teknis, berburu gambar di pasar butuh kejelian dan ketelitian tersendiri. Pasalnya, pasar yang demikian ramai transaksi saat puncak kesibukannya menuntut konsentrasi penuh agar bisa mendapatkan momen menarik.

"Susah mendapatkan momen yang pas. Karena itu, kami harus sering datang ke pasar pada malam atau dini hari. Kadang jam-jam 03.00 sudah harus nongkrongi para pedagang, tapi pulang dengan tangan hampa," ujarnya. Malah sering para mahasiswa itu ditolak para pedagang yang emoh diabadikan dalam gambar. "Kadang-kadang kami dikira intel polisi yang nantinya akan menggusur mereka. Mereka juga risih, sehingga kami harus melakukan pendekatan yang persuasif, merayu-rayu sampai setengah jam lebih baru mau," katanya.

Lokasi pameran yang justru di mal, tambah De La, adalah upaya mereka untuk menggugah para pengunjung mal, yang sebagian beasr remaja dan mudah terbawa budaya hedonis konsumtif, untuk tetap melirik pasar rakyat. Dosen fotografi Departemen Komunikasi FISIP Unair Yayan Sakti menyatakan, pasar dipilih karena punya perspektif menarik di masa kini. "Pasar tradisional memiliki tantangan untuk bisa mengasah teknik memotret. Mulai pencahayaan, warna, hingga suasana mistis di dalamnya," ujarnya.

Di pasar, sisi kemanusiaan sebuah perdagangan juga tersaji gamblang. Realita inilah yang menjadikan pasar tetap pantas jadi obyek yang menantang. Pameran ini rencananya akan dijadikan agenda tahunan, untuk menguji kemampuan mahasiswa memperbandingkan karyanya dengan pandangan masyarakat di ruang publik. (Koran SI/Koran SI/mbs)

o1 o2
o3 o4
o1 o2

Berita Lain

o3 o4