YOGYAKARTA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengkritisi sistem pendidikan Indonesia yang dirasa tak mampu menembus persaingan global.
Menurut Sultan, hal ini dirasa cukup mengkhawatirkan. Bagi Sultan, pendidikan Indonesia saat ini arah dan tujuannya hanya ekonomi. Padahal untuk mampu menembus persaingan global yang diperlukan adalah pendidikan yang berstrategi budaya. "Untuk mampu berdaya saing global yang perlu dibangun adalah character building dan nasionalism building. Dari sinilah akan muncul budaya yang mampu digunakan untuk menembus globalisasi," ujarnya pada bedah buku Menuju Jati Diri Pendidikan yang Mengindonesia karya Komite Rekonstruksi Pendidikan DIY, di Gedung BPD DIY.
Sultan khawatir, jika arah pendidikan Indonesia tetap berorientasi ekonomi, itu tak akan membangun peradaban. "Kunci pembangunan peradaban ada pada budaya. Padahal, bangsa ini sudah mewariskan sejarah sebagai jati diri masing-masing. Bisa dilihat tiap daerah memiliki sejarah budaya yang beda, di antaranya bahasa, pakaian, filosofi, menu makanan, dan budaya," tutur Sultan.
Selain itu, perlu juga pengajaran pendidikan kemaritiman dan kelautan, sebagai pendidikan yang sesuai karakter masyarakat Indonesia. "Di Jawa tidak ada pendidikan kemaritiman dan kelautan. Saya tidak tahu orang Ambon masih tahu maritim tidak atau masyarakat Bugis masih bisa buat kapal atau tidak," katanya lagi.
Menurut Sultan, pendidikan di Jawa yang selama ini jadi basis pendidikan nasional lebih mengajarkan pendidikan agraris atau kontinental. Sehingga masyarakat maritim yang berasal dari luar Jawa yang menempuh pendidikan di Jawa lebih banyak diajarkan pendidikan yang tidak sesuai dengan kondisi di daerahnya. Dia menyarankan konsep pendidikan seharusnya diarahkan ke arah pendidikan multikultur dan pluralis melalui semangat kepemimpinan (leadership) dan kewirausahawan (entrepreneurship).
Salah seorang narasumber, Ahmad Athaka Rizqi, menyatakan pendidikan di sekolah saat ini kurang memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang. Umumnya pola pendidikan yang ada adalah mendikte siswa dengan pelajaran-pelajaran yang text book. "Siswa hanya dididik untuk mencari hasil bagus, dengan jalan mencari nilai bagus lulus UN, diterima perguruan tinggi dan kerja, hanya seperti itu," kata salah satu pelajar berprestasi di Yogyakarta yang sudah menghasilkan sejumlah buku ini.
Ketua Komite Rekonstruksi Pendidikan (KRP) DIY Prof Sudjarwadi menyatakan, buku Menuju Jati Diri Pendidikan yang Mengindonesia merupakan hasil dari tulisan 18 tokoh pemerhati pendidikan di DIY, dan diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
(Koran SI/Koran SI/mbs)