DEPOK - Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri menilai, sebagai negara berpenduduk besar, Indonesia masih kekurangan orang bergelar doktor.
Menurut Gumilar, dari 210 juta jiwa penduduk Indonesia, saat ini baru sekitar 10.000 orang yang sudah menyandang titel doktor. Dia mengatakan, banyaknya kaum intelektual diharapkan ikut membantu mempercepat kemajuan Indonesia.
"Bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi orang-orang yang berpendidikan tinggi untuk mempercepat kemajuan bangsa," kata Gumilar dalam sambutannya saat mewisuda 7.867 mahasiswa UI di Kampus UI Depok, kemarin.
Untuk itu, dia meminta para wisudawan dan mahasiswa UI terus menerus belajar hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dia juga meminta para wisudawan terus bekerja keras mengembangkan ilmu yang telah didapatkan. Selain itu, memperkayanya dengan pengalaman yang diperoleh di lapangan dan dapat kembali disumbangkan bagi dunia pendidikan.
"Perlu kiranya Saudara-Saudari ingat bahwa Anda hanya berada pada satu masa baru dalam pembelajaran, bukan perhentian. Saya mengharapkan agar Saudara-Saudari untuk sesegera mungkin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, S2 dan S3," tegasnya.
Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Muchlas Samani memahami kekurangan doktor di Indonesia.
Hal itu akibat pendidikan doktor secara akademik masih terbilang baru di Tanah Air. "Program pascasarjana di Indonesia baru berlangsung tahun 1980-an. Jadi, masih terbilang barang baru," terangnya ketika dihubungi tadi malam.
Sebelumnya, pendidikan tinggi di Indonesia masih menganut sistem kolonial Belanda yang tidak mengenal program pascasarjana. Kalaupun ada seseorang yang bertitel doktor, dia mendapatkannya lewat kegiatan riset atau penelitian yang dijalani.
"Atau belajar di perguruan tinggi luar negeri," terangnya.
Apalagi, kata Muchlas, dosen-dosen Indonesia saat itu masih belum diharuskan mengambil program doktor. Namun, sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) No 14/2005 tentang Guru dan Dosen,para dosen pengajar strata 1 (S-1) dan diploma 3 (D-3) di Indonesia harus bertitel strata 2 (S-2), sedangkan pengajar S-2 harus mengambil program strata 3 (S-3).
Pemerintah, lanjut dia, telah menyediakan beasiswa bagi para dosen untuk mengambil program S-2 dan S-3. Untuk perguruan tinggi dalam negeri, pada 2008 disediakan beasiswa bagi 4.000 dosen untuk program S-2 dan 2.000 dosen untuk program S-3. Sedangkan tahun ini, tersedia 5.500 beasiswa S-2 dan 2.500 beasiswa S-3.
Sedangkan untuk perguruan tinggi di luar negeri,kata Muchlas, tahun ini Dikti menyediakan 600 beasiswa bagi para dosen. "Kita harapkan tahun 2015 mendatang semua dosen kita yang berjumlah 155.000 orang telah bertitel S-2 dan S-3," terangnya.
Sementara itu, dalam wisuda UI kemarin, tercatat sejumlah mahasiswa meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dan memperoleh predikat cum laude. Mereka adalah Mohammad Kemal Dermawan dari fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP), Fitri Ambar Sari (fakultas kedokteran), dan Heni Dwi Windarwati (fakultas ilmu keperawatan).
Hadir dalam wisuda tersebut, Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso yang menghadiri wisuda kedua anaknya yakni Andika Pandu dari fakultas psikologi dan Ardya Pratiwi Setyawati dari fakultas ekonomi. Hadir pula Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil yang juga Ketua Ikatan Alumni UI.
(Koran SI/Koran SI/jri)