MASALAH pendidikan masih sering terlupakan, padahal pendidikan adalah salah satu modal bangsa untuk maju. Pemerintah masih cenderung pada pencarian solusi masalah kekinian yang bersifat pragmatis belaka, yakni masih pada permasalahan ekonomi dan politik.
Hal itu karena kurangnya mereka berpikir ke depan untuk mempersiapkan generasi bangsa yang unggul yang akan menggantikan generasi sekarang. Berbicara tentang pendidikan, tidak cukup hanya berhenti sebatas pengajaran, yakni hanya mentransformasikan pengetahuan yang bersifat kognitif guru kepada murid.
Lebih dari itu, pendidikan harus mencakup seluruh unsur yang terkait di dalam pendidikan. Mengubah paradigma pendidikan dari teaching (pengajaran) menuju learning (pembelajaran) sangat penting.
Seorang guru harus meletakkan dirinya menjadi pembelajar bersama dengan peserta didik. Itu karena kebenaran tidak mutlak datang dari guru. Model belajar yang terpusat pada guru harus ditinggalkan, diganti dengan model belajar aktif dan mandiri yang berdasarkan prinsip-prinsip ilmu kognitif.
Pendidikan harus mempunyai visi yang jelas. Kesemuanya harus disesuaikan dengan tuntutan era globalisasi. Ada empat visi pendidikan yang dicanangkan oleh badan pendidikan dunia, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Pertama, belajar berpikir (learning how to think). Tujuan visi pendidikan ini berorientasi menciptakan peserta didik yang mampu berpikir logis dan rasional sehingga mampu menyatakan pendapat dan bersikap kritis sekaligus mempunyai semangat membaca yang tinggi.
Kedua, belajar berbuat (learning how to do). Aspek yang kedua ini mengarah kepada pembentukan peserta didik yang berkemampuan memecahkan masalah keseharian. Dengan kata lain, pendidikan diarahkan pada bagaimana menyelesaikan masalah sehingga anak dapat hidup mandiri dan terampil.
Ketiga, belajar hidup bersama (learning to live together). Aspek pendidikan yang ketiga ini berorientasi pada kemampuan hidup di tengah masyarakat yang majemuk dengan keanekaragaman bahasa, latar belakang, dan etnik.
Keempat, belajar menjadi diri sendiri (learning how to be). Visi yang terakhir ini sangat penting bagi kehidupan bangsa kita yang sedang dilanda krisis kepribadian. Jika saat ini kebanyakan orang melihat seseorang dari segi "Apa yang Anda miliki, apa yang Anda pakai, apa yang Anda makan, maka visi pendidikan yang keempat ini bagaimana membuat peserta didik percaya diri, mandiri, dan mampu berkembang bagi masa depannya.
Setelah terbentuknya visi dan misi pendidikan yang jelas, maka buah dari itu adalah teciptanya masyarakat madani yang sejak dulu dicita-citakan, yaitu masyarakat yang beradab. Di sini, setiap anggota masyarakat menjalankan aturan (kesepakatan) bersama yang baik. (*)
Ahfas Faisal
Mahasiswa Jurusan Ilmu Agama Islam FIS Universitas Negeri Jakarta
(//mbs)
